Klaim Tabloidjubi.com, Anak Kecil dan Ibu Hamil Jadi Korban Kontak Tembak Tanpa Dasar

0

JAYAPURA, Mediaexpresnews.co.id – Kapendam XVII/Cen Kolonel Muhammad Aidi menyatakan bahwa klaim media Tabloid Jubi tentang adanya korban 5 orang sipil yang diantaranya terdapat ibu hamil dan dua orang anak kecil tidak sesuai fakta.

Aidi menjelaskan bahwa akibat kontak tembak pada 2 Oktober 2018 antara Satgas Gakkum TNI/Polri dengan KKSB semuanya lima orang dewasa yang berusia diatas 20 sampai 40 tahun bukan tujuh orang seperti yang di klaim tabloidjubi.com.

“Seluruh korban berjumlah lima.orang dan semuanya orang dewasa bukan tujuh orang. Kami tidak menemukan adanya anak kecil atau wanita hamil, Jadi tidak benar korbannya lima orang dewasa dan dua orang anak kecil. ” terang Aidi, Senin (8/10/2018).

“Dari tim invetigasi semua mayat itu ditemukan di tempat kontak tembak dan bukan di pinggir kampung”, sambungnya.

Tanggal 06 Oktober 2018, Tabloidjubi.com merilis berita dengan judul “Diduga ada korban sipil dalam kontak tembak di Tingginambut” (http://tabloidjubi.com/artikel-20101-diduga-ada-korban-sipil-dalam-kontak-tembak-di-tingginambut.html) menjelaskan bahwa Seorang pekerja Hak Asasi Manusia (HAM) dari Gereja Kingmi melaporkan tujuh orang meninggal dunia dalam baku tembak antara tim gabungan Polri dan TNI yang tergabung dalam Satuan Tugas Penegakkan Hukum (Satgas Gakkum) dengan kelompok Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) pimpinan Goliat Tabuni (GT) di wilayah Kabupaten Puncak Jaya, Papua, Senin (1/10/2018) pagi.

Namun dalam pernyataan dari sumbernya yang hanya disebutkan pekerja HAM menyebutkan bahwa lima orang yang tewas dalam kontak tembak tersebut diantaranya warga sipil. Terdapat dua orang anak dan ibu hamil. Sedangkan dua lainnya adalah anggota TPN/OPM.

“Dalam rilisnya tanggal 6 Oktober 2018 tersebut, Tabloidjubi.com hanya mencantumkan bahwa sumbernya merupakan pekerja HAM yang menyampaikan melalui sambungan telepon, dan melaporkan bahwa ketujuh korban tersebut ditemukan di tempat tinggal warga dan menyatakan bahwa masih ada kemungkinan korban lainnya ditemukan di hutan, karena sebagian warga berlarian ke hutan dalam kontak tembak itu ” ujar Aidi.

Terhadap rilis berita tersebut Kapendam XVII/Cen menunjukan kekecewaanya, karena dalam berita tersebut, Tablodijubi.com tidak mencantumkan sumber dan penanggungjawab beritanya secara jelas dan menambahkan data dari lima menjadi tujuh yang tewas, termasuk dalam publikasinya tidak melakukan konfirmasi lebih dahulu kepada pihak Kodam XVII/Cen.

“Tabloidjubi.com mengklaim sebagai media nomor satu di Papua seharusnya mencantumkan sumber dan penanggungjawab beritanya bukan menulis berita yang tidak berdasar,” tegas Aidi.

Menurut Aidi, tabloidjubi.com mengangkat berita berdasarkan laporan dari nara sumber yang fiktif yang disebut sebagai seorang pekerja HAM tampa identitas yang dapat dipertanggung jawabkan. Dan dikisahkan pula bahwa Pekerja HAM tersebut hanya mendapatkan laporan dari berbagai orang tanpa disebutkan siapa pelapornya.

“Demikian pula keterangan yang menyatakan bahwa rakyat berlarian masuk hutan adalah keterangan yang sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin rakyat berlarian masuk hutan sementara kejadian kontak tembaknya di hutan, jauh dari pemukiman ? ” ujar Aidi balik bertanya.

Terkait pemberitaan tersebut, Aidi menyampaikan agar tabloidjubi.com bisa mempertemukannya dengan narasumbernya yang merupakan pekerja HAM agar bisa saling klarifikasi data dengannya.

“Tapi kalau tabloidjubi.com tidak bisa menunjukkan narasumbernya, berarti jubi yang telah membuat narasumber fiktif. Media jubi telah mempublikasi berita asal-asalan tanpa didukung dengan informasi yang benar atau dapat dikatakan berita yang dilansir Jubi tidak dapat dipertanggungjawabkan” pesan khusus Aidi kepada media tabloidjubi.com

“Ini sangat penting, segala keterangan atau informasi yang disampaikan kepada publik harus dapat dipertanggungjawabkan baik secara moral maupun secara hukum. Jangan menyajikan berita bohong kepada masyarakat, apalagi kalau disebut narasumbernya dari gereja. Kita jangan menjadi bagian penyebar Hoax dan fitnah”, tambah Aidi.

Memperkuat pernyataannya, Aidi menyampaikan bahwa pada tanggal 6 Oktober 2016 Pukul 07.00 s.d 18.30 WIT pihak TNI/Polri dan Palang Merah Indonesia telah membentuk tim gabungan untu menginvestigasi peristiwa kontak tembak pada tanggal 1 dan 2 Oktober lalu yang terjadi di Kampung Tinggineri Distrik Tingginambut, Kabupaten Punjak Jaya.

“Tim Investigasi Gabungan ini terdiri dari satuan TNI yang dipimpin oleh Kolonel Sugiono, Polri oleh Kombes Ramdani sedangkan dari PMI jumlah 18 orang dipimpin oleh Bapak Gembala Yapinus Kogoya (Ketua PMI Tinggi Nambut),” jelasnya.

Sebelumnya Kapendam XVII/Cend dalam rilis pendahuluannya melaporkan bahwa kontak tembak yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 2018 di markas GT telah ditemukan 1 orang anggota KKSB tewas yang belum bisa diidentifikasi dengan sejumlah barang bukti. Kemudian kontak tembak pada tanggal 2 Oktober 2018 ditemukan 2 orang anggota KKSB tewas berikut senjatanya yang salah satunya didentifikasi bernama Dekilas Tabuni.

“Namun hasil investigasi dari tim gabungan pada tanggal 6 Oktober 2018, saat penyisiran ditemukan lagi 2 mayat dalam kondisi membusuk, sekitar 50 meter dari Honai yang dijadikan Markas GT dan telah menjadi lokasi kontak tembak pada tanggal 1 Oktober 2018 lalu,”terang Aidi.

“Keterangan Bapak Gembala Yopinus Kogoya dan anggotanya Yonibi Wanimbo bahwa salah satu mayat tersebut adalah mayat Kopingga Tabuni dan yang lainnya adalah seorang wanita bernama Wepi Wonda (salah satu Istri dari GT). Keterangan lain disebutkan Dekilas Tabuni yang tewas pada saat kontak tembak tanggal 2 Oktober adalah anak dari Goliat Tabuni (GT), Setelah dilaksanakan identifikasi mayat selanjutnya dilaksanakan prosesi pembakaran mayat oleh para anggota PMI dipimpin oleh Gembala Yapinus Kogoya,” Aidi tambahkan.

Sementara itu, saat dikonfirmasi ke Kolonel Sugiono dikatakan bahwa dimungkinkan adanya korban-korban lain yang belum ditemukan. “Karena beratnya medan dan jauh dari pemukiman warga dan ditambah cuaca yang mulai gelap atau malam maka investigasi dihentikan”, tandasnya.

(D.Manurung)

Leave A Reply

Your email address will not be published.